Selasa, 03 Maret 2009

Enake piye ... ?

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang baru kerja, bilang "aku nang kene lapoo, kok ra ono kerjaan ?", "Sabaarr, engko lek akeh kerjaan lak stress dewe awakmu". Keesokan harinya diberi kerjaan stumpuk langsung nggondok maneh areke. hahaha. Begitu juga ketika melihat aktivitas teman-teman di Plurk yang baru kerja, gak ono kerjaan stress, akeh kerjaan tambah stress lha pingine piye to?

Aku yo lagi belajar kerjo, dulu nganggur di kantor Semarang stress, kemarin malah terlalu banyak kerjaan di Solo tambah stress maneh. Yaahhh sing penting dinikmati ajalah kerjaannya. Yang penting kerjaan bener. Kata Kadivku, "Kamu jangan khawatir, kalau kerja mu tidak diperhatikan. Kami pasti memperhatikan kok, kalaupun tidak, Yakinlah bahwa yang diatas selalu memperhatikanmu dan tidak akan menyianyiakan usahamu"

Mboten usah susah, mboten usah bingung dipun sekecoaken mawon

Minggu, 01 Maret 2009

Melihat sisi lain dari Ponari

Bismillahirohmanirrohim.

Mulai soko ngendi yoo.. hmmm. langsung wae lah. Tulisan ini berkenaan dengan Ponari, dukun cilik asal Jombang yang kini lagi naik daun. Lama nggak ngerti beritanya, walaupun penulis ini adalah orang Jombang namun karena ada panggilan Tugas ndak bisa pulang ke Jombang. TV pun nggak punya di tempat perantauannya, sehingga cukup ketinggalan berita. Sampai pada suatu ketika penulis berada disebuah hotel *rodo nggaya sithik lah* kebetulan melihat berita di TV tentang Ponari yaitu di acara Kupas Tuntas-nya Trans TV. Baru itulah penulis berani berkomentar tentang si Ponari

Berdasar pada keterangan Ponari ketika diwawancara:
Reporter :"Oleh ndelok watune dhik ?"
Ponari : "Gak oleh "
R : "Lha kenopo kok gak oleh"
P : "Gak oleh karo Rono"
R : "Rono iku sopo dhik?"
P : "Yo jin"
Ditambah lagi keterangan dari ibune Ponari, bahwa batu yang dibawa Ponari pernah dua kali dibuang tapi akhirnya tetap saja balik ke Ponari.

Dilihat dari dua keterangan diatas yaitu "jin" dan "batu yang selalu melekat pada Ponari", penulis berani berkesimpulan Siapakah ponari itu dari sisi pengetahuan Penulis tentang "jin" dan "jimat".

Dari sumber yang dapat dipercaya, yaitu kakak Penulis sendiri yang dulunya pernah bergelut dengan jin dan Jimat:
Apakah Jimat itu?. Jimat adalah suatu penjelmaan Jin yang dapat berupa benda, batu, pusaka, senjata dan sebagainya yang melekat pada seorang manusia
Bagaimana seseorang mendapatkan Jimat? Jimat didapatkan atas dasar suka atau tidak suka Jin dalam jimat tersebut, jimat bisa berpindah tangan Jika jin dalam Jimat tersebut mau dipindahkan, namun jika tidak mau walaupun dibuang atau diberikan kepada Siapapun Jimat tersebut akan kembali pada pemiliknya. Jadi jangan heran ada seorang dapat kaya karena Jin salah satunya adalah jimat yang berupa Emas, emas itu dijual dengan harga mahal yang nantinya emas itu pasti akan kembali ke pemiliknya dan bisa dijual lagi, begitulah seterusnya.
Jimat tidak bisa diteliti secara ilmiah?, apapun itu alasannya, jika ada kemiripan itu hanyalah suatu kebetulan karena itu adalah barang Ghoib.

Pada dasarnya Jin dan Manusia adalah sama, yaitu makhluq Allah yang diciptakan untuk beribadah kepadaNya. Hanya mereka berda alamnya. Tidak semua jin dapat mengetahui alam manusia dan tidak semua manusia dapat mengetahui Alam Jin, hanya yang diberi pengetahuan oleh Allah-lah yang bisa menembus dua alam yang berbeda. Sama dengan Manusia, jin ada yang Islam dan ada yang Kafir, jin yang kafir cenderung untuk menyesatkan Jin dan Manusia kepada kekafiran, selalu berhati-hatilah terhadap Jin, karena sifatnya yang halus sulit bagi kita untuk mengetahui apakah Jin itu bermaksud membantu manusia atau menyesatkan Manusia. Salah satu ciri bahwa jin itu bermaksud menyesatkan manusia adalah dengan memberikan persyaratan yang mengarahkan manusia kepada perbuatan syirik untuk mendapatkan Jimat atau suatu kedigdayaan yang dibantu oleh Jin (tenaga dalam dsb), serta membuat manusia menjadi tergantung Jimat/Jin. Kalau kakak dari Penulis ketika bermain dengan Jin semasa mudanya dulu punya prinsip bahwa "Kita, manusia, lebih mulia dari Jin, jadi jangan sampai kita menurut pada Jin, justru Jin lah yang harus menurut pada kita", dan alhamdulillah sekarang beliau sudah melepaskan semua Jin--jin-nya dengan alasan adanya 2 Bahaya: Yaitu bahaya syirik dan Bahaya keselamatan keluarganya, karena beliau dianggap sebagai orang yang "berilmu" dan pasti banyak paranormal yang ingin "menjajal" kemampuanya (baca:santet)

Kembali ke Ponari, Apakah praktek Ponari itu praktek syirik? pembaca bisa melihat sendiri fenomena yang terjadi di masyarakat dan tanggapilah secara lebih bijaksana. Kenapa penulis tidak mengambil sikap yang tegas? karena penulis tidak mau gegabah menilai sesuatu (apalagi pengetahuannya masih sangat sedikit, baik tentang ponari maupun tentang Jin) hingga malah menimbulkan prahara di masyarakat yang justru akan lebih besar mudhorotnya. Dan kita mesti harus bersikap hati-hati dengan meninggalkan sesuatu yang meragukan seperti dalam sebuah Hadits "Tinggalkan yang meragukanmu, kepada sesuatu yang tidak meragukanmu" (Dalam Kumpulan Hadist Arba'in). Kita manusia hidup dialam nyata, meskipun Jin dapat membantu kita dengan izin Allah, pilih yang pasti-pasti ajalah dan mintalah pertolongan kepada yang Maha Gho'ib, Allah Subhanahu wata'ala, pencipta alam Semesta

Wallahu A'lam

end main