Ini adalah sebuah cerita tentang beberapa kota yang pernah disinggahi penulis, menurut pandangan penulis dan berdasar kan mood penulis saat menulis ini ^_^. Ceritanya ini dimulai penulis setelah penulis sudah bosen kuliah di Surabaya maka hijrahlah ke negeri Semarang pada bulan September 2008 dengan secara kebetulan alias nyasar. Ketika bekerja di PT SPJ Semarang, penulis juga mendapat kesempatan untuk mengamalkan ilmunya di daerah Solo dan Boyolali. Setelah selesai kontraknya dengan PT SPJ, penulis yang pernah disebut Bolang (bocah ilang) ini, melanjutkan petualangannya di kota Bogor pada bulan April 2009. Pengalaman yang cukup singkat itu yang akan diceritakan dalam tulisan ini.
Semarang - sebuah kota tua
Itulah esan pertama terhadap kota Semarang. Pertama kali menginjakkan kaki di kota Semarang ketika turun dari stasiun Tawang. Meskipun waktu itu hari sudah malam, terlihat jelas disekitarnya terdapat banyak sekali bangunan-bangunan yang sudah tua. Perjalanan dari kos (kos numpang teman) menuju kantorpun melalui beberapa bangunan yang sudah tua diantaranya adalah lawang sewu sebuah kantor peninggalan jaman Belanda. Disamping itu masih banyak lagi kalau melihat beberapa sudut kota Semarang dengan bangunan-bangunan tuanya seperti dam banjir kanal, klenteng (lali aku jenenge) yaitu sebuah klenteng yang dibangun yang katanya diatas tempat pendaratan laksamana cheng ho, gereja blenduk, pasar Johar dan lain-lain. Kota Semarang di lalui oleh jalan Raya Pos yang dibangun pada masa deandels dulu yang menghubungkan Anyer-Panarukan salah satunya yaitu di jalan pemuda yang masih menampakkan suasanya jaman dahulu. Semarang juga termasuk kota kuliner, dimana gampang sekali mendapatkan makanan yang beraneka ragam disana. Yang paling terkenal disana adalah Lumpia, Wingko Babat dan Bandeng Presto. Jajanan pasar pun banyak ragamnya (nggak apal jenenge aku) yang pasti rasanya wenaak tenan, cocok sama lidahnya si penulis yang lahir dan besar di Jombang ini. Kalau mau makan murah dan cukup untuk mengisi perut bisa makan sego kucing, waktu itu harganya 1500 rupiah 1 bungkus. Kenapa disebut nasi kucing? Konon katanya sebenarnya nasi itu porsinya memang untuk makanan kucing, namun karena manusia yang rakus apa aja mau, jadi dimakan juga oleh manusia :D. Dulunya nasi kucing cuma berisi nasi sak kepel, secuil ikan bandeng dan sedulit sambel. Namun sekarang sudah bervariasi menunya ada yang nasi goreng, oseng-oseng kerang, dadar telur, nasi kuning dan lain-lain. Yang menarik juga di Semarang ada kota atas dan ada kota bawah. Dimana Semarang merupakan kota pesisir yang berupa dataran rendah disebut kota bawah dan ada juga perbukitan yang disebut semarang atas. Semarang bawah seringkali banjir ketika hujan dan meluapnya air laut. Konon katanya semarang bawah dulunya memang berupa lautan yang kini sudah dijadikan pemukiman oleh para penduduknya.
Solo - pusatnya budaya jawa
Kota solo tidak jauh dengan kota semarang, disamping budaya jawanya yang lebih kental, mungkin yang berbeda adalah solo tidak ada kota atasnya, kota dataran rendah yang puanass. Yang lebih mengesankan di Solo adalah disetiap Toko/perkantoran dipapan namanya selalu ada Tulisan dari aksara jawa disamping tulisan latin dimana budaya jawa berupa tulisan yang masih dilestarikan disini (seperti di jepang). Di solo juga ada sego kucing yang katanya sego kucing itu asalnya dari solo dan lebih murah dari yang di Semarang yaitu sebungkusnya cuma 1000 Rupiah. Berdasarkan pengalaman penulis, sorganya makanan adalah di Solo, disamping murah juga banyak ragamnya. Yang buka 24 Jam pun banyak, namun harus hati-hati di kalau makan di Solo, sebab disana juga banyak daging babi dan daging anjing yang dijual. Jadi kalau mau makan harus benar-benar di tempat yang terpercaya. Yang lebih unik lagi adalah penduduknya, kota Solo merupakan kota yang sangat beragam penduduknya. Tidak sedikit yang satu keluarga agamanya berbeda-beda. Penulis mendapatkan informasi ini dari teman penulis yang waktu itu bertugas sebagai petugas Quality Control kuisioner data penduduk. Dalam pengamatan penulis sendiri yang suka safari masjid, dilihat dari cara beribadah di Masjid dan Orang-orang yang beribadah didalamnya di satu wilayah yang berdekatanpun banyak sekali yang berbeda. Mulai dari yang kejawen, sampe salaf ada disana. Aliran kepercayaanpun banyak. Kalau mau bawa oleh-oleh dari solo biasanya adalah batik yang bisa didapat di pasar klewer atau pusat grosir solo dan beberapa makan seperti intip, dendeng, kripik ceker, kripik belut dan lain-lain yang bisa dibeli di daerah sekitar itu (lali aku jenenge ^_^).
Boyolali - kota sapi
Boyolali amat terkenal dengan Sapi Perahnya nya yang menghasilkan susu. Begitu masuk ke kota Boyolali sudah terpampang patung Sapi Perah di tengah-tengah jalan. Dan memang tidak salah kalau sapi menjadi icon kota boyolali, karena susu sapi Boyolali sangat segar dan uenakk, maknyuss. Dan kalau kita pergi ke desa-desa banyak kita jumpai penduduk yang beternak sapi perah. Boyolali tidak sehidup di solo yang ramai 24 jam. Jam 9 malam hampir semua toko sudah tutup, jadi kalau mau cari makan diluar harus kurang dari jam 9 malam supaya dapat menemukan makanan buat mengisi perut. Berbeda dengan di Solo, mau makan jam 1 dini hari masih banyak pilihannya. Boyolali berada di lereng gunung Merapi dan Merbabu. Hawanya sangat sejuk dan dingin sekali saat malam tiba. Bahkan seringkali kabut tebal menutupi jalanan kota. Kalau kita pergi selo, sepanjang perjalanan pemandangannya Subhanallah sungguh indah. Berjalan diantara dua Gunung yang tinggi menjulang terlihat hijau pemandangan sawah dan hutan serta tebing-tebing yang curam, aliran sungai kecil yang mengalir diantara bebukitan dengan hawanya yang sangat dingin dan sejuk. Sayang belum sempat penulis berkeliling dan berlama-lama memanjakan diri menikmati indahnya alam ciptaan Allah disana.
Bogor - tempat bersantai (dulu ..)
Bogor dahulu bernama Buitenzorg yang artinya tempat bersantai, katanya dulu begitu masuk ke kota Bogor langsung maknyess dinginnya, namun sekarang cukup panas, walaupun kadang dinginnya juga menusuk tulang, tapi hawanya sedikit sumuk. Tapi yang pasti tidak sepanas kota Surabaya dan Solo. Mungkin dianggap panas karena ekspektasi kota bogor yang semestinya jadi kota peistirahatan yang kenyataannya sudah menjadi kota sibuk sebagai peyangga ibukota dimana lahan perkebunan yang dulunya cukup luas sekarang sudah jadi pemukiman yang padat. Walau begitu hidup di Bogor cukup enak juga, dengan akses ke kota Jakarta yang mudah yang katanya semua ada di Jakarta. Kalau mau berlibur tinggal ke Puncak atau ke Sukabumi (katanya sih, cuma belum pernah kesana hmm kapan ya). Masalah makanan, penulis masih belum menguasai disini selain satu ciri yaitu setiap makan diwarung bonus minumnya adalah the tawar. Padahal kalo dirasakan agak pahit lho nggak enak, orang-orang Bogor kok suka sekali ya dengan teh tawar. Dan yang jelas makanan di Bogor insya Allah dijamin halal, tidak seperti di Solo. Apalagi motto kota bogor sebagai kota Beriman -sama seperti mottonya Jombang( jadi merasa seperti di Jombang euy) ada restoran Babi pun sudah di protes (di solo warung babi dan anjing berserakan dimana-mana)dan kabarnya nantinya mau diproses supaya setiap restoran ada sertifikat halal.
Tapi kenapa ya, padahal kota Bogor lebih ramai daripada ketiga kota lainnya diatas, penulis lebih merasa kesepian halahhh..... Mungkin cuma karena kulturnya yang berbeda, disini aku ketemu dengan orang-orang teknik semuanya, kerjaan juga sama jadi tipenya juga banyak kesamaannya. Berbeda dulu di Semarang/Solo/Boyolali, yang benar-benar dari Teknik dan kerjanya sesuai bidangnya cuma aku sedang teman-teman yang lain macam-macam backgroundnya, kerjaannya juga macam-macam serasa tidak pernah diam mulutnya, ngobrol sana-sini, maen kesana-sini nggak ada habisnya :).
Semarang - sebuah kota tua
Itulah esan pertama terhadap kota Semarang. Pertama kali menginjakkan kaki di kota Semarang ketika turun dari stasiun Tawang. Meskipun waktu itu hari sudah malam, terlihat jelas disekitarnya terdapat banyak sekali bangunan-bangunan yang sudah tua. Perjalanan dari kos (kos numpang teman) menuju kantorpun melalui beberapa bangunan yang sudah tua diantaranya adalah lawang sewu sebuah kantor peninggalan jaman Belanda. Disamping itu masih banyak lagi kalau melihat beberapa sudut kota Semarang dengan bangunan-bangunan tuanya seperti dam banjir kanal, klenteng (lali aku jenenge) yaitu sebuah klenteng yang dibangun yang katanya diatas tempat pendaratan laksamana cheng ho, gereja blenduk, pasar Johar dan lain-lain. Kota Semarang di lalui oleh jalan Raya Pos yang dibangun pada masa deandels dulu yang menghubungkan Anyer-Panarukan salah satunya yaitu di jalan pemuda yang masih menampakkan suasanya jaman dahulu. Semarang juga termasuk kota kuliner, dimana gampang sekali mendapatkan makanan yang beraneka ragam disana. Yang paling terkenal disana adalah Lumpia, Wingko Babat dan Bandeng Presto. Jajanan pasar pun banyak ragamnya (nggak apal jenenge aku) yang pasti rasanya wenaak tenan, cocok sama lidahnya si penulis yang lahir dan besar di Jombang ini. Kalau mau makan murah dan cukup untuk mengisi perut bisa makan sego kucing, waktu itu harganya 1500 rupiah 1 bungkus. Kenapa disebut nasi kucing? Konon katanya sebenarnya nasi itu porsinya memang untuk makanan kucing, namun karena manusia yang rakus apa aja mau, jadi dimakan juga oleh manusia :D. Dulunya nasi kucing cuma berisi nasi sak kepel, secuil ikan bandeng dan sedulit sambel. Namun sekarang sudah bervariasi menunya ada yang nasi goreng, oseng-oseng kerang, dadar telur, nasi kuning dan lain-lain. Yang menarik juga di Semarang ada kota atas dan ada kota bawah. Dimana Semarang merupakan kota pesisir yang berupa dataran rendah disebut kota bawah dan ada juga perbukitan yang disebut semarang atas. Semarang bawah seringkali banjir ketika hujan dan meluapnya air laut. Konon katanya semarang bawah dulunya memang berupa lautan yang kini sudah dijadikan pemukiman oleh para penduduknya.
Solo - pusatnya budaya jawa
Kota solo tidak jauh dengan kota semarang, disamping budaya jawanya yang lebih kental, mungkin yang berbeda adalah solo tidak ada kota atasnya, kota dataran rendah yang puanass. Yang lebih mengesankan di Solo adalah disetiap Toko/perkantoran dipapan namanya selalu ada Tulisan dari aksara jawa disamping tulisan latin dimana budaya jawa berupa tulisan yang masih dilestarikan disini (seperti di jepang). Di solo juga ada sego kucing yang katanya sego kucing itu asalnya dari solo dan lebih murah dari yang di Semarang yaitu sebungkusnya cuma 1000 Rupiah. Berdasarkan pengalaman penulis, sorganya makanan adalah di Solo, disamping murah juga banyak ragamnya. Yang buka 24 Jam pun banyak, namun harus hati-hati di kalau makan di Solo, sebab disana juga banyak daging babi dan daging anjing yang dijual. Jadi kalau mau makan harus benar-benar di tempat yang terpercaya. Yang lebih unik lagi adalah penduduknya, kota Solo merupakan kota yang sangat beragam penduduknya. Tidak sedikit yang satu keluarga agamanya berbeda-beda. Penulis mendapatkan informasi ini dari teman penulis yang waktu itu bertugas sebagai petugas Quality Control kuisioner data penduduk. Dalam pengamatan penulis sendiri yang suka safari masjid, dilihat dari cara beribadah di Masjid dan Orang-orang yang beribadah didalamnya di satu wilayah yang berdekatanpun banyak sekali yang berbeda. Mulai dari yang kejawen, sampe salaf ada disana. Aliran kepercayaanpun banyak. Kalau mau bawa oleh-oleh dari solo biasanya adalah batik yang bisa didapat di pasar klewer atau pusat grosir solo dan beberapa makan seperti intip, dendeng, kripik ceker, kripik belut dan lain-lain yang bisa dibeli di daerah sekitar itu (lali aku jenenge ^_^).
Boyolali - kota sapi
Boyolali amat terkenal dengan Sapi Perahnya nya yang menghasilkan susu. Begitu masuk ke kota Boyolali sudah terpampang patung Sapi Perah di tengah-tengah jalan. Dan memang tidak salah kalau sapi menjadi icon kota boyolali, karena susu sapi Boyolali sangat segar dan uenakk, maknyuss. Dan kalau kita pergi ke desa-desa banyak kita jumpai penduduk yang beternak sapi perah. Boyolali tidak sehidup di solo yang ramai 24 jam. Jam 9 malam hampir semua toko sudah tutup, jadi kalau mau cari makan diluar harus kurang dari jam 9 malam supaya dapat menemukan makanan buat mengisi perut. Berbeda dengan di Solo, mau makan jam 1 dini hari masih banyak pilihannya. Boyolali berada di lereng gunung Merapi dan Merbabu. Hawanya sangat sejuk dan dingin sekali saat malam tiba. Bahkan seringkali kabut tebal menutupi jalanan kota. Kalau kita pergi selo, sepanjang perjalanan pemandangannya Subhanallah sungguh indah. Berjalan diantara dua Gunung yang tinggi menjulang terlihat hijau pemandangan sawah dan hutan serta tebing-tebing yang curam, aliran sungai kecil yang mengalir diantara bebukitan dengan hawanya yang sangat dingin dan sejuk. Sayang belum sempat penulis berkeliling dan berlama-lama memanjakan diri menikmati indahnya alam ciptaan Allah disana.
Bogor - tempat bersantai (dulu ..)
Bogor dahulu bernama Buitenzorg yang artinya tempat bersantai, katanya dulu begitu masuk ke kota Bogor langsung maknyess dinginnya, namun sekarang cukup panas, walaupun kadang dinginnya juga menusuk tulang, tapi hawanya sedikit sumuk. Tapi yang pasti tidak sepanas kota Surabaya dan Solo. Mungkin dianggap panas karena ekspektasi kota bogor yang semestinya jadi kota peistirahatan yang kenyataannya sudah menjadi kota sibuk sebagai peyangga ibukota dimana lahan perkebunan yang dulunya cukup luas sekarang sudah jadi pemukiman yang padat. Walau begitu hidup di Bogor cukup enak juga, dengan akses ke kota Jakarta yang mudah yang katanya semua ada di Jakarta. Kalau mau berlibur tinggal ke Puncak atau ke Sukabumi (katanya sih, cuma belum pernah kesana hmm kapan ya). Masalah makanan, penulis masih belum menguasai disini selain satu ciri yaitu setiap makan diwarung bonus minumnya adalah the tawar. Padahal kalo dirasakan agak pahit lho nggak enak, orang-orang Bogor kok suka sekali ya dengan teh tawar. Dan yang jelas makanan di Bogor insya Allah dijamin halal, tidak seperti di Solo. Apalagi motto kota bogor sebagai kota Beriman -sama seperti mottonya Jombang( jadi merasa seperti di Jombang euy) ada restoran Babi pun sudah di protes (di solo warung babi dan anjing berserakan dimana-mana)dan kabarnya nantinya mau diproses supaya setiap restoran ada sertifikat halal.
Tapi kenapa ya, padahal kota Bogor lebih ramai daripada ketiga kota lainnya diatas, penulis lebih merasa kesepian halahhh..... Mungkin cuma karena kulturnya yang berbeda, disini aku ketemu dengan orang-orang teknik semuanya, kerjaan juga sama jadi tipenya juga banyak kesamaannya. Berbeda dulu di Semarang/Solo/Boyolali, yang benar-benar dari Teknik dan kerjanya sesuai bidangnya cuma aku sedang teman-teman yang lain macam-macam backgroundnya, kerjaannya juga macam-macam serasa tidak pernah diam mulutnya, ngobrol sana-sini, maen kesana-sini nggak ada habisnya :).
