Kamis, 15 Januari 2009

Budaya Indonesia

Isenk-isenk baca koran ada suatu artikel yang menarik yaitu Tentang mahasiswi asing yang belajar di Indonesia. Mahasiswi dari Jerman yang belajar di jurusan Antropologi STAIN- Salatiga ini mengaku lama-kelamaan sudah bisa beradaptasi dan betah tinggal di Indonesia, termasuk makanannya dan budaya Islam di indonesia bagaimana cara menyambut tamu. Namun ada satu yang tidak ia sukai terhadap budaya Indonesia, yaitu budaya jam karet.

Ha ha memang parah budaya jam karet di Indonesia, pengalaman kuliah jarang ada yang tepat waktu kecuali jamnya Pak Rully, di KISI pun padahal hampir di setiap syuro(rapat) saya selalu bilang jangan molor, tapi tetap saja molor 1/2-1 jam. Huuuhhh sampai kesel aku. Bahkan dalam mengkonsep acarapun bisa menggunakan jam karet, bila acaranya jam 8 bilang saja suruh datang jam 7, 1 jam buat resiko kalo molor.

Pengalaman juga mengikuti Rekruitment Karyawan dari perusahaan asing di kampus, mereka selalu tepat waktu, di pengumumuman ditulis jam 10 maka jam 10 pas acara sudah dimulai, masalah. waktu untuk registrasi sudah harus menjadi kesadaran sendiri bagi pelamar yaitu bila tidak ingin ketinggalan harus datang sebelum waktunya. Tapi suatu ketika ada perusahaan asing yang menerapkan jam karet, sebenarnya acaranya jam 10 tapi dibilang jam setengah 10, karena tidak ingin terlambat maka aku mesti datang jam 9. Setelah tiba ternyata jam 9 masih ndak ada panitia sama sekali, baru jam setengah 10 ada sedikit yang datang untuk menyiapkan registrasi baru jam 10 dimulai. Setelah saya selidiki ternyata bukan dari pihak perusahaannya yang bilang jam setengah 10 tapi dari pihak SAC ITS. Aduuhh sialan apa dikiranya kami ini anak kecil yang tidak bisa ngatur waktunya sendiri.

Jam karet.. jam karet, kapan Indonesia bisa terbebas dari jeratan jam karet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

end main